Berikut Empat Fakta Pembangunan Monumen Fatmawati, Simbol dan Futuristikal Kepariwisataan
Dutawarta.com - Monumen Ibu Negara pertama, Fatmawatiakandibangun. Monumen itu akan dibangun di kawasan simpang lima Kota Bengkulu dan akan rampung dibangun tahun 2019 ini.
Berikut 4 fakta pembangunan monumen Fatmawati:
1. Simbol Sejarah Keterlibatan Bengkulu atas Kemerdekaan RI
Monumen itu, menurut Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sebagai simbol keterlibatan Bengkulu atas kemerdekaan Republik Indonesia.
Seperti kita ketahui, Fatmawati adalah istri Presiden RI pertama Ir Soekarno, yang merupakan putri asli Bengkulu. Fatmawati juga menjadi perempuan istimewa karena dialah yang menjadi Ibu Negara pertama kali sejak Indonesia Merdeka. Jasanya juga terpatri apik sebagai Ibu Negara yang menjahit bendera pusaka untuk dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Bukan sekedar menjahit bendera saja yang menjadikannya bernilai, namun, prosesi penjahitan bendera pusaka kala itu ditengah ancaman penjajah sekaligus dalam situasi dimana Fatmawati sedang mengandung sembilan bulan. Dengan bersusah payah, akhirnya selama 2 hari, bendera pusaka itu selesai dijahit oleh Fatmawati. Dalam ceritanya, Fatmawati bahkan sampai meneteskan air mata diatas kain bendera pusaka karena menahan sakit. Sakit akibat hamil tua anak pertama dan terpaksa menjahit hanya dengan menggunakan tangan, sebab oleh dokter, dia tidak diperbolehkan menggunakan kakinya mengingat usia kehamilan sudah sampai pada waktunya melahirkan putranya.
Masih soal simbol sejarah, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah juga menegaskan bahwa Fatmawati adalah sosok kebanggaan masyarakat Bengkulu. Oleh karena itu, kebanggaan itu dibuktikan dengan berbagai bentuk pengabadian salah satunya dengan membangun monumen Fatmawati. Sebelum pembangunan monumen Fatmawati, nama Fatmawati juga telah diabadikan menjadi nama bandar udara di Bengkulu, yakni Bandar Udara Fatmawati Soekarno. Gubernur juga mendukung agar gambar Fatmawati menghiasi uang kertas rupiah, saat ini, pengusulan gambar Fatmawati di uang kertas rupiah sedang dalam proses.
2. Monumen Fatmawati dibangun oleh Konsorsium Bank
Pembangunan monumen Fatmawati akan dibangun dan dibiayai oleh konsorsium bank nasional. Ada 12 bank nasional yang dipimpin oleh Bank Tabungan Negara (BTN) yang akan patungan membangun monumen Fatmawati. Adapun dana yang dibutuhkan berkisar Rp 4,2 miliar.
3. Rencana dibangun di kawasan bandara, namun pindah ke pusat kota
Pembangunan monumen Fatmawati sudah direncanakan sejak tahun 2018 lalu. Saat itu, Gubernur Bengkulu menyampaikan monumen Fatmawati akan dibangun di kawasan Bandara Fatmawati Soekarno, tepatnya di depan pintu masuk bandara. Dipilihnya lokasi itu, telah mendapat persetujuan dari Menko Sosial dan SDM. Selain itu, sejumlah perizinan lainnya juga sudah diurus.
Namun kemudian, aspirasi dari keluarga Fatmawati ingin monumen Fatmawati dibangun di pusat Kota Bengkulu, yakni di simpang lima. Ketua Yayasan Fatmawati Maulana Singadikane menjelaskan kelima anak Soekarno Fatmawati telah menyepakati pembangunan Monumen Ibu Fatmawati di Bengkulu dibangun di pusat kota Bengkulu, yaitu Simpang Lima. "Guntur, Megawati, Sukmawati, Rachmawati, dan Guruh, semuanya telah setuju pembangunan monumen ini," kata Maulana.
Beberapa pertimbangan, monumen didirikan di pusat kota antaranya, simpang lima daerah strategis aktivitas masyarakat, rumah ibu fat terletak di daerah tersebut, simpang lima perwujudan pancasila, dan lokasi rumah orang tua Fatmawati (Hasan Din) terletak disana (yang sekarang BNI 46).
"Simpang Lima menjadi pilihan lokasi pendirian Monumen, nilai historis masa lalu menjadi pertimbangannya," ungkapnya.
4. Akan menjadi destinasi wisata baru
Dengan dibangunnya monumen Fatmawati di pusat Kota Bengkulu, Gubernur Bengkulu memastikan itu akan menjadi icon atau destinasi wisata baru di Bengkulu. Sebab, nanti juga akan dibangun kawasan sejarah rumah Ibu Negara Fatmawati di Kelurahan Anggut. Sementara menurut pemerhati budaya dan kepariwisataan, Benie, dengan mengunggulkan potensi wisata berbasis budaya dan sejarah, maka hal itu akan menjadi semacam obat bagi kerinduan generasi masa depan. "Dan percayalah, masa depan nanti akan lebih menyukai hal-hal yang punya nilai baik itu nilai budaya, sejarah ataupun nilai-nilai sakralitas lainnya, wisata masa depan akan menonjol ke arah situ," ungkap Benie.
Benie mengapresiasi pemerintah yang mulai bersemangat memunculkan kearifan lokal, sebab itu punya nilai futuristikal masa depan, khususnya dibidang kepariwisataan. (Adv/Rs)

Facebook comments