Skip to main content
x
Teknologi
Ilustrasi Facebook

Jelang Pemilu di Indonesia, Facebook Hapus Ratusan Akun Palsu

Dutawarta.com - Facebook menyatakan telah menutup sejumlah akun di Indonesia yang dianggap melanggar standar komunitas mereka. Penutupan akun tersebut bukan didasarkan pada isi konten, melainkan adanya perilaku pengguna yang tidak otentik atau pengguna akun yang terindikasi palsu.

Di tengah maraknya penyebaran hoaks di Indonesia, Facebook melakukan investigasi mengenai perilaku penggunanya sejak 2018. Adapun penghapusan sejumlah halaman, akun, dan grup dilakukan pada Jumat (1/2/2019). Total, Facebook telah menghapus 207 halaman, 800 akun, 546 grup dan 208 akun Instagram di Indonesia.

Head of Cyber Security Policy Facebook, Nathaniel Gleicher mengatakan, salah satu cara mengidentifikasi akun tersebut adalah dengan melihat perilakunya. Akun yang tidak otentik cenderung memicu tafsir publik yang berbeda terhadap identitas sebenarnya.

Akun-akun tersebut ditengarai berkaitan erat dengan grup sindikasi daring di Indonesia secara terorganisir. “Kami melihat dari perilaku dan jaringan mereka dan menemukan ada hubungan dengan sindikasi itu. Kami sangat berhati-hati dalam mengidentifikasinya,” kata Nathaniel melalui video conference dari Kantor Facebook Indonesia di Jakarta.

Dalam hal ini, Nathaniel menegaskan, Facebook memang terbuka untuk semua orang di Indonesia. Mereka hanya ingin memastikan bahwa akun yang didaftarkan merupakan akun asli. Hal itu sesuai dengan ketentuan yang tertera di standar komunitas Facebook.

“Kami ingin orang tetap berekspresi dengan situasi yang tenang dan nyaman,” ungkap Nathaniel.

Beberapa contoh halaman facebook yang dihapus misalnya, Permadi Arya, Kata Warga, dan Darknet ID. Adapun contoh dari grup facebook yang dihapus yakni Berita Hari Ini dan Ac Milan Indo. Mereka diduga memiliki hubungan dengan Saracen, grup sindikasi daring di Indonesia.

Facebook menghapus akun, halaman, dan grup tersebut bukan berdasarkan pada konten yang mereka posting melainkan karena penyalahgunaan akun palsu. “Orang-orang di baliknya saling berkoordinasi untuk menggambarkan identitas yang tidak sesuai dengan aslinya,” ungkap Nathaniel. 

(Sumber: Kompas.com)

Dibaca : 7Klik

Facebook comments