Skip to main content
x
Virgo Transport 8 Jadi Alarm, Senator Leni Minta Keselamatan Pelayaran Bengkulu-Enggano Diperketat

Virgo Transport 8 Jadi Alarm, Senator Leni Minta Keselamatan Pelayaran Bengkulu-Enggano Diperketat

Jakarta, Dutawarta.id — Kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa, kemarin (13/9/2026), menjadi alarm bagi keselamatan pelayaran Bengkulu-Enggano. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) Hj Leni Haryati John Latief meminta Kementerian Perhubungan dan pemerintah daerah segera mengaudit kelaikan kapal, sistem keselamatan, serta kesiapan menghadapi cuaca buruk.

"Jangan menunggu kapal terbalik dan korban berjatuhan di perairan Enggano baru keselamatan pelayaran diperiksa," kata Hj Leni Haryati John Latief merespon kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Senin (13/9/2026).

Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, kecelakaan Virgo Transport 8 yang melibatkan ratusan orang harus menjadi peringatan bahwa aspek keselamatan pelayaran tidak boleh hanya diperiksa setelah kecelakaan terjadi.

"Tragedi KMP Virgo Transport 8 harus menjadi peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kita baru melakukan evaluasi setelah terjadi korban. Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama," ungkap Hj Leni Haryati John Latief.

Dewan Pakar Daerah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Provinsi Bengkulu ini menekankan, rute Bengkulu-Enggano memiliki posisi strategis bagi masyarakat Pulau Enggano. Transportasi laut menjadi salah satu sarana utama untuk mobilitas warga serta distribusi kebutuhan pokok dan mendukung pelayanan pemerintahan, kesehatan, pendidikan dan kegiatan ekonomi.

Karena itu, ia meminta pemerintah memastikan seluruh kapal yang melayani rute tersebut benar-benar laik beroperasi, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.

"Kelaikan teknis, kondisi mesin, stabilitas kapal, kapasitas angkut, alat keselamatan, sistem alarm, jaket pelampung, sekoci, alat komunikasi sampai kesiapan awak kapal menghadapi keadaan darurat harus benar-benar dipastikan," tutur Hj Leni Haryati John Latief.

Menurutnya, pemeriksaan harus dilakukan secara faktual di lapangan. Pemerintah tidak cukup hanya melihat dokumen atau sertifikat kelaikan kapal.

Ia juga menyoroti faktor cuaca yang menjadi salah satu ancaman utama dalam pelayaran. Kondisi gelombang, angin, arus dan perubahan cuaca, kata dia, harus menjadi dasar dalam menentukan apakah kapal aman diberangkatkan.

"Kalau kondisi cuaca tidak memungkinkan, jangan dipaksakan berlayar hanya demi mengejar jadwal. Keselamatan manusia harus mengalahkan kepentingan operasional," tegas Hj Leni Haryati John Latief.

Pembina Forum Melayu Rembuk Bengkulu ini meminta Kementerian Perhubungan dan instansi terkait memiliki standar yang jelas mengenai kondisi cuaca dan laut yang memungkinkan kapal berlayar maupun kondisi yang mengharuskan keberangkatan ditunda.

"Alarm bahaya harus berfungsi, jalur evakuasi harus jelas, jaket pelampung mudah dijangkau dan awak kapal harus mampu memberikan instruksi serta melakukan evakuasi dengan cepat," beber Hj Leni Haryati John Latief.

Kecelakaan KMP Virgo Transport 8 sendiri terjadi setelah kapal yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Banjarmasin dilaporkan menghadapi cuaca buruk dan gelombang tinggi di sekitar perairan Pulau Masalembu, Laut Jawa.

Kapal kemudian mengirimkan sinyal marabahaya sebelum ditemukan dalam kondisi terbalik. Berdasarkan data sementara, terdapat 243 orang di dalam kapal yang terdiri atas awak kapal, pekerja, penumpang serta sopir dan kernet kendaraan.

Sejumlah korban telah berhasil dievakuasi, sementara korban meninggal dunia dan mereka yang masih dalam pencarian juga telah dilaporkan.

Senator asal Bengkulu ini menambahkan, kejadian tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan di seluruh jalur pelayaran, termasuk Bengkulu-Enggano.

"Kita tidak boleh berpikir bahwa selama kecelakaan belum terjadi berarti semuanya aman. Tugas pemerintah adalah mengidentifikasi potensi bahaya dan memperbaikinya sebelum menimbulkan korban," demikian Hj Leni Haryati John Latief. 

Dibaca : 1Klik

Facebook comments