Skip to main content
x
Prof. KH. Nasaruddin Umar

9 Nilai Nasaruddin Umar untuk Memimpin PBNU

Jakarta-Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, berbagai gagasan tentang arah masa depan jam'iyah terus mengemuka. Di tengah dinamika tersebut, sosok Menteri Agama RI sekaligus Rais Syuriah PBNU, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., kembali menjadi perbincangan setelah Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH. Imam Jazuli, membagikan refleksi atas pertemuan intensif selama hampir tiga jam yang membahas masa depan NU.

Bagi KH. Imam Jazuli, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadirkan kesejukan, profesionalisme, sekaligus keberanian melakukan transformasi tanpa tercerabut dari akar tradisi pesantren.

"Kerinduan dari struktural dan kultural NU akan sosok kepemimpinan yang adem, merangkul, visioner, dan berorientasi pada kemajuan harus direspons dengan tepat. Ketika NU memanggil untuk berkhidmah, maka panggilan itu harus disambut dengan penuh keikhlasan," ujar KH. Imam Jazuli.

Dari dialog tersebut, Imam Jazuli merumuskan sembilan nilai kepemimpinan yang menurutnya tercermin pada diri Prof. Nasaruddin Umar dan relevan menjadi bekal memimpin PBNU ke depan.

Pertama, pengalaman panjang memimpin birokrasi pemerintahan dan lembaga keagamaan memberikan kemampuan membaca persoalan umat secara komprehensif. 

Kedua, jejaring internasional yang luas memperkuat posisi NU sebagai aktor penting dalam diplomasi peradaban dunia.

Ketiga, rekam jejak akademik dan intelektual menjadikan setiap kebijakan berpijak pada ilmu pengetahuan. 

Keempat, konsistensinya mengarusutamakan Islam moderat memperkokoh wajah NU sebagai penjaga Islam rahmatan lil 'alamin.

Kelima, kemampuan menjadi figur pemersatu dinilai sangat penting di tengah beragam dinamika internal organisasi. 

Keenam, kedekatan dengan pesantren dan para ulama memastikan bahwa modernisasi tetap berpijak pada khazanah keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketujuh, visi pembangunan peradaban menunjukkan bahwa NU tidak cukup hanya menjadi organisasi keagamaan, tetapi juga lokomotif kemajuan bangsa. 

Kedelapan, gaya komunikasi yang tenang, santun, dan berwibawa dinilai mampu membangun dialog lintas generasi maupun lintas kelompok.

Kesembilan, integritas pribadi dan kepemimpinan berbasis etika menjadi fondasi utama dalam menjaga marwah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.

Menurut KH. Imam Jazuli, sembilan nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi agenda nyata organisasi. Ia menekankan pentingnya merangkul seluruh sumber daya manusia NU tanpa sekat kelompok, membangun kepengurusan berbasis kompetensi dan profesionalisme, memperkuat pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi warga Nahdliyin, serta menjadikan NU sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun bangsa.

"Jam'iyah NU harus bertransformasi menjadi organisasi yang profesional tanpa kehilangan akar tradisinya. Seluruh potensi Nahdliyin harus dirangkul, bukan dipertentangkan. Pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan dakwah rahmatan lil 'alamin harus menjadi agenda utama yang menyentuh kehidupan nyata warga," tegas KH. Imam Jazuli.

Pada akhirnya, Muktamar NU ke-35 bukan sekadar memilih seorang ketua umum, melainkan menentukan arah peradaban Nahdlatul Ulama untuk beberapa dekade mendatang. Di tengah tantangan global, digitalisasi, ketimpangan ekonomi, hingga kebutuhan penguatan moderasi beragama, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu memadukan tradisi, ilmu pengetahuan, integritas, dan visi masa depan. Sebab, kekuatan NU tidak hanya lahir dari besarnya organisasi, tetapi dari kualitas kepemimpinan yang mampu mengubah nilai-nilai menjadi gerakan nyata demi kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dibaca : 2Klik

Facebook comments